Browse By

Denny Sacul: Hidup Saya 90% Mengarah ke Bridge

denny2

Sosok Deny Sacul bagi dunia bridge Tanah Air bukanlah sosok asing. Malang melintang sebagai pemain sejak masih muda membuat Deny mampu menancapkan namanya di kancah bridge nasional. Tak hanya itu, namanya juga berkibar di level internasional setelah berkali-kali meraih gelar juara pada kejuaraan bergengsi.

Namun, banyak yang belum mengetahui jika perkenalan Deny dengan bridge sejatinya berawal dari ketidaksengajaan. Semua bermula ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Ujung Pandang (Makassar), Sulawesi Selatan pada 1960. Ketika itu, Deny yang tinggal bersama sang kakak di Komplek Militer menonton orang-orang sedang berlatih bridge tak jauh dari rumahnya.
Berawal hanya dari menonton, perkenalan Deny dengan bridge semakin mendalam ketika ia pindah ke Surabaya saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Deny pun seperti sudah ditakdirkan berjodoh dengan bridge ketika rumah tinggalnya berdekatan dengan A.Y Unuputi yang merupakan atlet bridge Surabaya. Kebetulan, rumah Unuputi saat itu menjadi tempat untuk latihan bermain bridge.
“Setiap diadakan latihan, saya selalu menonton dengan dalih sambil menikmati konsumsi yang disediakan. Tapi, suatu ketika kelompok latihan tersebut kekurangan orang untuk bermain dan saya diminta untuk menggantikan sementara pemain yang belum datang. Setelah ikut bermain ternyata saya mendapat sambutan dan pujian yang luar biasa karena bermain sangat baik. Sejak saat itu akhirnya saya bergabung menjadi anggota di kelompok bridge tersebut,” ujar Deny mengisahkan.
Momentum yang tak diduga-duga datang ketika Deny harus pindah ke Jakarta mengikuti kakaknya yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 1967. Di Ibukota, Deny muda sempat menempuh jalur kuliah. Akan tetapi, hasratnya untuk bermain bridge tak bisa lagi terbendung sehingga membuatnya meninggalkan bangku kuliah. Namun, keputusannya tersebut terbayar pada empat tahun kemudian ketika ia mengikuti seleksi nasional dan terpilih menjadi salah satu pemain tim nasional berpasangan dengan Bram Nayoan pada 1971.
“Praktis arah hidup saya 90% mengarah ke dunia bridge. Selain menjadi atlet sudah sejak lama saya juga berperan sebagai pelatih di beberapa klub, bahkan ditingkat internasional seperti pada tahun 2007 saat diminta melatih tim nasional India dan tahun 2012-2013 menangani tim Thailand,” tandasnya.
Prestasi demi prestasi seakan terus melekat sejak berlabel pemain nasional. Berbagai macam gelar pun sudah pernah dirasakan Deny sejak pertama kali meraih Juara I APB pada 1979. Namun, ada satu gelar yang menurutnya paling berkesan yakni ketika Tim Nasional Indonesia dilatih oleh pelatih terbaik dunia Eric Kokish. Berkat tangan dinginnya, Eric mampu membawa Indonesia mendadak masuk ke jajaran tingkat elit dunia pada 1996. Puncaknya, pada 2000 menjadi juara dunia pada ajang tidak resmi yakni Kejuaran Invitasi 6 Besar Dunia di Swiss dengan mengalahkan Italia di partai final.
“(Gelar) Yang belum saya raih adalah menjadi juara dunia untuk kejuaaraan resmi yang diselenggarakan oleh WBF. Karena gelar tertinggi dari olahraga bridge adalah grand master yang hanya dapat disandang ketika bias meraih juara dunia pada kejuaraan dunia yang diselenggarakan oleh WBF. Tapi, saya masih punya kans untuk meraih itu, mengingat poin untuk menjadi
granmaster yang saya miliki sudah memenuhi syarat,” katanya.
Sebagai pemain senior, Denny pun tidak lupa memberikan pandangannya terhadap para pemain muda. Menurutnya, untuk kondisi saat ini, secara kuantitas banyak pemain muda, tetapi kualitasnya masih sangat rendah. Karena itu, dibutuhkan adanya pembinaan secara rutin seperti yang selalu di serukan oleh Ketua Umum PB GABSI Ekawahyu Kasih yakni Bridge Masuk Sekolah (BMS). “Jika dulu para pemain penuh dengan motivasi dan tidak terganggu dengan masalah ekonomi sehingga fokus pada prestasi. Tapi, sekarang para pemain sudah terganggu dengan masalah ekonomi yang membuat mereka jadi tidak fokus dalam meraih prestasi. BMS sudah sangat baik tapi masih ada kekurangan yaitu kesulitan mendapatkan pelatih,” pungkasnya.

denny1Daftar Prestasi:
1979 Juara I APB
1980 Juara I Invitasi 14 Besar Dunia di Belanda
1982 Juara I APB
1983 Juara I APB
1984 Juara I APB
1993 Juara I APBF
2006 Juara II Kejuaraan Dunia di Estoril, Portugal
2008 Juara III World Main Sport Games di Beijing, China
2009 Juara III Kejuaraan Dunia di Sao Paolo, Brasil
2010 Juara III Kejuaraan USA World Series di Philadelphia, AS
2012 Juara I APBF 2012 di Jepang bermain untuk reguThailand
2015 Juara I Senior Team APBF di Bangkok, Thailand
Juara II Pairs APBF di Bangkok, Thailand

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *